Hujan semakin deras, api ini terus menyala, semakin membesar & tak menunjukkan tanda padam. Api ini membekas mungkin. Entahlah.

Sehabis maghrib di bulan puasa, yang sedang duduk di gapura gang.

pidi-baiq:

Bahkan dunia, tak berdaya, hanya luka dan berdoa. Sehebat apakah mereka, kaum pembunuh para nabi. Ya Tuhan Maha Pengasih, ya Tuhan Kasihi kami. Ya Tuhan Maha Penyayang, ya Tuhan Sayangi kami. Orang dicinta harus tiada, orang disayang harus hilang, oleh nafsunya mereka, kaum pembunuh para nabi. Ya Tuhan Maha Pengasih, ya Tuhan Kasihi kami. Ya Tuhan Maha Penyayang, ya Tuhan Sayangi kami

Reblogged from pidi-baiq



Rasanya aku ingin berjalan melangkah meninggalkan kehidupan sosial. Mengapa? Karena itu tak bisa menciptakan kedamaian bagiku, riweuh yang ada.
Aku hanya ingin kedamaian dan ketenangan. Maafkan Tuhan, aku ingin mencumbu alam yang telah kau ciptakan.
Izinkan aku menatap alam-Mu nan rupawan ini. Biarkan kakiku menyatu dengan tanahnya yang suci. Bersentuhan dengan dedaunannya yang halus. Biarkan aku mencium udaranya pelan. Memeluk hangat semak belukar. Perlahan aku tidur diatasnya. Aku mulai rasakan kenikmatannya. Sudah, tinggalkan aku sejenak untuk bersamanya. Ya sejenak.

Rasanya aku ingin berjalan melangkah meninggalkan kehidupan sosial. Mengapa? Karena itu tak bisa menciptakan kedamaian bagiku, riweuh yang ada.

Aku hanya ingin kedamaian dan ketenangan. Maafkan Tuhan, aku ingin mencumbu alam yang telah kau ciptakan.

Izinkan aku menatap alam-Mu nan rupawan ini. Biarkan kakiku menyatu dengan tanahnya yang suci. Bersentuhan dengan dedaunannya yang halus. Biarkan aku mencium udaranya pelan. Memeluk hangat semak belukar. Perlahan aku tidur diatasnya. Aku mulai rasakan kenikmatannya. Sudah, tinggalkan aku sejenak untuk bersamanya. Ya sejenak.

Only the nature that made you got peacefulness. Don’t be worry if them leave you, we still have the nature.

Only the nature that made you got peacefulness. Don’t be worry if them leave you, we still have the nature.

Dengan Siapa Aku Berbicara, Bu?

Mondar-mandir gelisah aku menunggu. Ternayata “ventilator” itu tak berguna untuk Ibu. 

Aku sudah besar, Bu.

Ibu tahu itu, memang mengapa kalo begitu?

Dan Ibu harus tahu sesuatu.

Harus tahu apa Anakku?

Tapi aku tak berani memberi-tahu.

Kamu bilang saja pada Ibu.

Aku tak berani Bu.

Kamu ini selalu begitu….

Aku ini putramu satu.

Memang kamu satu-satunya anak Ibu….

Maka dari itu….

Apa maksudmu?

Maka dari itu aku putramu satu-satunya ini tak bisa menjadi anak Ibu.

Semakin tidak mengerti Ibu.

Aku tak sempat membuatmu tersenyum bangga mungkin tidak akan pernah bisa melakukan itu! Tidak akan bisa Bu!

Tak usah teriak-teriak bicara dengan ibu. Kamu pasti bisa, Nak. Percaya itu.

Semuanya terlambat, Bu! Terlambat! … semuanya terlambat untuk itu! Ibu sudah terbujur kaku! Ibu sudah tahu kan semua itu! Aku sudah gagal kan menjadi anak Ibu! Iya kan! Jawab, Bu! Jawab! Ibuuuuuu……………!!!

Seketika suasana tengah malam itu menjadi haru. Penuh emosi dan air mata. Hening sejenak….

Aku peluk erat ibu dan ku bisikkan: maafkan aku, Bu. Tenanglah di sana, doa-ku menyertaimu. I love you.

*cerita ini hanya fiktif belaka.

Science adalah spekulasi ditambah imajinasi.

— Mamacake